Akselerasi
Pencapaian MDGs
Kepala
Negara/Pemerintahan dari berbagai negara telah mengukuhkan komitmen
internasional dalam memberantas kemiskinan dan kelaparan di seluruh dunia
yang dituangkan dalam Millennium Development Goals (MDGs) pada
KTT millennium PBB yang diadakan di New York pada tahun 2000 lalu.
MDGs memuat
sejumlah target berikut tolok ukurnya sebagai acuan internasional dalam
mencapai target pemberantasan kemiskinan dan kelaparan yang diharapkan bisa
dicapai pada tahun 2015. Target MDGs mencakup
1)
pemberantasan kemiskinan dan kelaparan
ekstrem;
2)
pencapaian pendidikan dasar yang universal
3)
promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
4)
pengurangan tingkat mortalitas anak
5)
peningkatan kesehatan ibu
6)
pemberantasan HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya
7)
pencapaian keberlangsungan lingkungan hidup
8)
pengembangan kemitraan
global untuk pembangunan.
MDGs merupakan bagian utama dari tujuan pembangunan di
Indonesia sehingga Indonesia berkomitmen penuh terhadap upaya pencapaian Target
MDGs. MDGs juga telah diselaraskan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional (RPJPN) 2005-2025.
Berdasarkan
Laporan Pencapaian MDGs Indonesia tahun 2011 yang diterbitkan oleh Bappenas,
sejumlah target MDGs telah dicapai sebelum 2015 mencakup penurunan 50% tingkat kemiskinan dengan indikator USD 1,00 per
kapita per hari, pencapaian pendidikan dasar universal, pencapaian kesetaraan
gender dalam semua tingkat pendidikan, dan
peningkatan temuan kasus TBC baru serta penurunan prevalensinya.
Pelaksanaan diplomasi multilateral Indonesia di bidang
MDGs ditujukan untuk mengamankan pencapaian tujuan MDGs melalui upaya antara
lain: 1) mendorong agar konsep sustained, inclusive and equitable
economic growth diarusutamakan menjadi konsep pembangunan ekonomi dan
sosial ke depan guna mencapai MDGs sebelum tahun 2015; 2) mendorong
terciptanya effective global aid architecture yang
mengedepankan national ownership, alignment with national
development strategy and priorities, dan mampu meningkatkan kapasitas
negara penerima dalam melaksanakan pembangunan
berkelanjutan; 3)
mengembangkan kemitraan global baru yang meliputi semua pemangku kepentingan
termasuk kalangan bisnis dan CSOs guna meningkatkan akses masyarakat terhadap
pekerjaan yang layak, pendidikan dan kesehatan; 4) mendukung upaya memperkuat
komitmen bersama dalam menghadapi masalah kemiskinan terutama
melalui mekanisme Official Development Assistance (ODA).
Agenda Pembangunan Global Pasca-2015
Menjelang
berakhirnya time frame pencapaian target
capaian Millennium Development Goals (MDGs) tahun 2015,
komunitas internasional di bawah PBB mulai mendiskusikan perumusan agenda
pembangunan global pasca-2015.
Proses penyusunan agenda pembangunan pasca-2015 ini
dilakukan dalam 2 (dua)workstreams yang saling terkait dan bermuara
pada satu proses inter-governmentaluntuk menghasilkan agenda
pembangunan pasca-2015. Workstream tersebut adalah:
a. Workstream pertama:
sesuai mandat yang diberikan pada sekjen PBB, berdasarkanMDGs Summit 2010,
untuk memulai proses pembahasan agenda pembangunan pasca-2015. Sekjen PBB telah membentuk beberapa mekanisme
seperti UN System Task Team on the Post-2015 UN Development
Agenda, High Level Panel of Eminent Persons for the Post 2015
Development Agenda (HLP). Laporan dari mekanisme-mekanisme tersebut telah menjadi input laporan Sekjen PBB terkait agenda
pembangunan pasca-2015 berjudul “A
life of Dignity for All”. Sekjen PBB telah menyampaikan laporan
tersebut di depan negara anggota PBB pada Special event on the Achievement on
MDGs tanggal 25 September 2013.
b. Workstream kedua:
sesuai mandat KTT Rio+20, yaitu OWG on SDGs. KeanggotaanOWG SDGs adalah sebanyak 30 kursi, yang mewakili lima kelompok regional PBB.
Indonesia menjadi salah satu negara dari 21 negara wakil Kelompok Asia Pasifikdalam Troika bersama China dan Kazakhstan.
Peranan
Indonesia di HLP
Pada bulan
september tahun 2010, KTT MDGS di New york telah memberikan mandat kepada
Sekjen PBB untuk menginisiasi upaya persiapan agenda pembangunan pasca-2015.
Sebagai tindak lanjut, Sekjen PBB kemudian mengumumkan pembentukan High-Level
Panel of Eminent Persons on Post-2015 Development Agenda (HLP) pada bulan mei
2012 yang diketuai bersama (co-Chairs) oleh presiden RI, Susilo Bambang
Yudoyono, Presiden Liberia, Ellen Jhonson Sirleaf, dan Perdana Mentri Inggris,
Dabid Cameron
Tujuan HLP adalah memberikan advice kepada Sekjen PBB mengenai visi
dalam mengatasi tantangan pembangunan global. Selama proses pembahasan agenda pembangunan pasca-2015, HLP melakukan
konsultasi dan outreach dengan berbagai pemangku
kepentingan internasional dan regional
groups termasuk organisasi
masyarakat madani. Secara keseluruhan, HLP mengadakan lima kali pertemuan, yaitu di New York, AS, pada tanggal 25 September 2012 yang
membahas tentang visi agenda pembangunan pasca-2015; di London, Inggris, pada tanggal 1 November 2012 yang membahas kemiskinan di tingkat individu dan rumah tangga; di Monrovia, Liberia, pada tanggal 1 Februari 2013 yang membahas national
building blocks untuk
pengentasan kemiskinan; di Bali,
Indonesia pada tanggal 27 Maret 2013 yang membahas
mengenai kemitraan global dan means
of implementation dari agenda
pembangunan pasca-2015; dan di New York, AS, pada tanggal 29 Mei 2013 yang berhasil mengesahkan laporan akhir HLP.
Mewakili para co-chairs dan anggota HLP, Presiden RI telah menyerahkan secara resmi laporan akhir HLP yang berjudul “A New Global
Partnership: Eradicate Poverty and Transform Economies through Sustainable
Development” kepada Sekjen
PBB pada tanggal 30 Mei 2013.
Terdapat lima prinsip
dasar yang diusung Laporan HLP dalam komitmen pengentasankemiskinan, yaitu:
1. Leave no one behind.
2.
Put
sustainable development at the core.
3.
Transform
economies for jobs and inclusive growth.
4.
Build peace
and effective, open and accountable institutions for all.
5.
Forge a new
global partnership.
Tindak
lanjut penyusunan agenda pembangunan global pasca-2015 di masa mendatang adalah sebagai berikut:
a. Proses pembahasan isu tematik dalam
OWG on SDGs akan berakhir pada bulan Februari 2014.
Pembahasan selanjutnya akan difokuskan untuk konsultasi/negosiasi formal
penyusunan laporan OWG on SDGs pada bulan Maret – Juli
2014. Laporan OWG on SDGs
akan disampaikan pada Sidang Majelis Umum PBB Sesi ke-68 (September
2014).
b. Laporan OWG on SDGs akan
menjadi salah satu masukan proses negosiasi inter-governmental untuk
menyusun agenda pembangunan global pasca-2015, yang
akan dimulai pada Sidang Majelis Umum PBB Sesi ke-69 (September 2014 -
September 2015). Agenda pembangunan pasca 2015 tersebut diharapkan dapat
disepakati pada Sidang Majelis Umum PBB Sesi ke-70 (September 2015).
Kepentingan
Indonesia
Terkait dengan upaya memformulasi Post-2015 Development Agenda, Indonesia
mendukung tersusunnya roadmap bagi intergovernmental process guna penyusunan agenda pembangunan
pasca-2015 dan Indonesia berpandangan bahwa
agenda dimaksud harus dibangun berdasarkan lessons
learned and best practices dari
pelaksanaan MDGs. Indonesia mendukung pandangan yang menetapkan poverty eradication sebagai visi Agenda Post 2015 Development Agenda melalui economic growth, terutama
mewujudkan sustainable growth
with equity, perhatian terhadap aspek sosial, dan perlindungan
lingkungan.
Sumber : http://www.kemlu.go.id/Pages/IIssueDisplay.aspx?IDP=8&l=idPendapat : Menurut pendapat saya target MDGs memberantas kemungkinan sangat lah sulit, tetapi untuk memperkecil kemiskinan mungkin lebih mudah di atasi dari pada memberantas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar